Buku Distilasi Alkena adalah sebuah proses memisahkan dua hati yang pada
dasarnya tak bisa dipisahkan karena suatu ikatan perasaan. Walaupun dalam
perjalanannya, hati akan tumbuh untuk bisa merelakan. Karena cepat atau lambat,
entah maut atau orang lain yang menyebabkan, hubungan selanggeng apa pun akan
dapat dipisahkan. Maka, yang terbaik adalah mencintai dalam keikhlasan.
“Sebab, ribuan
pelukan akan tetap menguap bila dihadapkan sebuah kepergian.”
Buku Distilasi Alkena
ini berisikan senandika tentang seorang pria yang ditinggalkan oleh orang
terkasihnya menikah. Iya. Ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya. Jadi garis
besarnya adalah itu, terdiri dari 21 tulisan yang bertemakan sama. Ada sebagian
yang merupakan pengalaman dari teman komikanya, dan yang lainnya saya jamin
pasti memang pengalamannya Wira sendiri. Yang membuat unik buku ini adalah
penggunaan istilah-istilah kimia/ilmiah. Jadi perasaan sakit dan belum bisa
merelakan inilah yang di analogikan ke berbagai judul dengan istilah-istilah
kimia. Seperti; Fraktal Gehenna, Pandemi Hepatomegali, Residu Saliva, dan lain
sebagainya. Alasan dibalik penggunaan istilah kimia ini adalah Ibu Wira
sendiri. Ternyata Ibunya adalah seorang Guru Kimia. Wahhh. Mantap. Dan jangan
khawatir, apabila kalian melongo dan tidak mudeng dengan
istilah-istilah tersebut. Disetiap akhir tulisan nanti akan disampaikan arti
dari istilah tersebut beserta maksudnya.
“Rinduku adalah
barisan kalimat tanpa titik koma.
Ia menyadur
dalam resah, membuku dalam gelisah,
kemudian terbit
dalam lantunan doa pasrah”
Dengan pemilihan kata yang mudah dipahami dan diksi yang beragam, buku
ini sangat cocok untuk seseorang yang sedang patah hati, apalagi ditinggal doi
menikah dengan orang lain. Wkwkwk. Dalam buku ini banyak sekali kutipan-kutipan
yang sangat ngenes dan membuat hati hancur. Saya jamin pasti
banyak yang baper saat membacanya. Ternyata bisa sampai sebegitunya ya jika
seorang lelaki ditinggalkan oleh orang terkasihnya. Sebelumnya saya pernah
membaca dua buah buku senandika yang penulisnya adalah perempuan, jadi saya
paham betul yang dirasa. Lalu saya membaca Distilasi Alkena ini yang nyatanya
ditulis oleh seorang lelaki. Saya jadi bisa sedikit mengerti, bahwasannya,
mereka juga bisa memiliki rasa yang begitu mendalam dan tidak mudah untuk
merelakan. Tinggal eksekusinya bagaimana, diekspresikan atau dipendam. Baique.
“Setabah apapun
kamu, pertemuan adalah gerbang menuju perpisahan.
Terima saja,
bahagia ada untuk menjemput kesedihan”
Menurut saya dengan tema yang sama di semua tulisannya, jadi memberikan
kesan monoton dan sedikit membosankan. Tidak mengganggu memang, karena pada
dasarnya buku ini berkutat dengan hal itu. Tapi yang pasti buku ini bisa
dijadikan renungan saat merasa kehilangan. Bahwa setiap orang bisa saja
memberikan kekecewaan, tanpa diduga dan tanpa aba-aba. Bersiaplah.
“Jangan
berharap terlalu berlebihan.
Karena seperti
itulah harapan;
kau diberikannya sayap lalu
kau dipatahkan”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar